Rapsodi Rinai

Rapsodi Rinai

 

Allahuakbar… Allahuakbar

Allahuakbar… Allahuakbar

Ashaduanlaillahaillalloh…

Ashaduanlaillahaillalloh…

Ashaduannamuhammadarrasululloh…

Ashaduannamuhammadarrasululloh…

Haya’alasholah…

Haya’alasholah…

Haya’alalfalah…

Haya’alalfalah…

Allahuakbar… allahuakbar

Laaillahaillalloh…

***

            “Pergi… Pergi dari rumah ini.” Suara ibu menggelegar bak petir di siang bolong.

             “Ibu, ingat Ibu, ini maghrib…” Lirih suaraku memanggil-manggil namanya tak terdengar oleh suara ibu yang menggelegar diiringi semilir angin yang membawa rintik rinai malam itu.

            “Silakan memilih ibu atau teman-temanmu (jilbaber) itu, kalau kamu memilih mereka dengan tetap menjadi kamu yang seperti ini (pakai jilbab lebar, tidak salaman sama non mahram, sering ngaji, dan sering sholat tahajjud), ya sudah ikuti mereka, kita mencari hidup masing-masing. Ibu akan mencari hidup sendiri. Silakan keluar dari rumah ini.” Suara ibu benar-benar meninggi dengan wajah yang memerah membuat ngeri siapapun yang melihatnya. Ibu mengusirku dari rumah. Ayah telah lama sekali tidak ada kabarnya. Ibu, ibulah satu-satunya yang mencukupi kebutuhan hidupku selama ini. Seandainya aku pergi dari rumah ini, bagaimana nasibku selanjutnya?

 

***

            Rintik-rintik rinai membasahi cakrawala yang mulai petang. Sayup-sayup kumandang adzan mengisi ruang telinga. Sebuah pondok kecil terlihat padang dengan satu lampu neon. Pondok ini berpenghunikan ibu dan empat orang anaknya yang mengarungi sisa-sisa usianya.

Sepertinya ada kesalahpahaman antara ibu dan salah satu putrinya. Ibu memang baru saja di rumah sekitar seminggu yang lalu. Ibu baru saja pulang dari Malaysia. Semenjak aku masuk sekolah SMA, sejak itu pula ibu bekerja di Malaysia.

            Di suatu senja saat matahari sudah mau membenamkan dirinya. Ibu baru saja datang dari suatu tempat, ternyata ibu mencari pinjaman uang untuk berangkat kerja ke Malaysia.

            “Ibu, darimana? Maghrib-maghrib begini baru pulang.” Aku memberondong ibunya dengan pertanyaan dengan wajah yang bersungut-sungut.

            “Dari cari pinjaman uang buat kamu sekolah.” Suara ibu ketus dan marah ke arahku.

Ternyata aku telah berburuk sangka pada ibu. Diam-diam ibu sangat keras berpikir bagaimana caranya agar aku b isa bersekolah SMA. Suatu ketika setelah masuk SMA, pernah ada perlengkapan sekolahku yang tertinggal, dengan rasa yang yang mengharu biru, ibu mengantarkannya ke sekolah. Dari sini sudah cukuplah dapat kuketahui betapa ibu sangat luar biasa menyayangiku.

            Beberapa bulan setelah aku masuk sekolah SMA, ibu berangkat ke Malaysia. Alhamdulillahirrabbil’alamin, di SMA N 1 Durenan, kutemukan  orang-orang yang luar biasa. Mereka yang mengajariku banyak hal tentang islam. Kutemukan ekstrakulikuler study kerohanian islam (SKI). Di sini kutemukan seorang pembina SKI yang sangat luar biasa keren. Seorang bapak separuh baya yang sangat energik mensyiarkan islam. Setiap hari jum’at beliau mengisi kajian di mushola kami. Saat siswa baru, aku hanya ikut saja mbak-mbak yang sangat baik, kalem, dan perhatian itu untuk ikut kajian beliau.

            Penyampaian beliau yang sangat bervariasi ditambah fasilitas materi yang dapat kami imajinasikan, membuat kami semakin mudah untuk memahami materi-materi kajian yang cukup berat sebenarnya. Beliau menjelaskan materi-materi terkait dengan syahadatain, mengenal Allah, mengenal Rasululloh, manisnya iman, dsb. yang cukup berat.  Akan tetapi, materi ini dengan sangat mudahnya dapat kami  pahami dengan beberapa analogi-analogi yang beliau sampaikan.

            Waktu itu, memang sudah kuazzamkan diri untuk tetap mengkaji islam selama sekolah di SMA. Basic sekolah Madrasah Tsanawiyah (MTs) yang telah aku dapatkan membuat aku benar-benar keoranjingan dengan ilmu agama. Aku seperti mu’alaf yang baru saja mengenal islam. Hari jum’at itu setelah kajian selesai, tiba-tiba lengan aku ditarik oleh seorang Mbak. Mbak Latif, namanya.

            “Dik, jangan pulang dulu ya? Ada acara SKI yang lain.” Mbak Latif sedikit berbisik mengucapkan kata-kata itu. Pikiranku, ini kan juga acaranya SKI, mengapa masih ada lagi acara SKI? Acara apa lagi? Kok teman-teman yang lain pada pulang?

            “Iya, Dik, disini saja dulu. Nanti aku barengi, Mbak Ifa, kakak kelas waktu MTs pun ikut menimpali kata-kata Mbak-Mbak yang lain. Ada sekitar lima orang teman aku yang masih kelas satu saat itu. Akhirnya kuikuti saja apa kata mereka. Beberapa menit kemudian datanglah Mbak-Mbak tinggi kurus menggunakan jaket hitam dengan gamis kremnya dan tentu tak ketinggalan jilbab lebarnya. Dalam hatiku berbisik,

            “Ih, ni Mbak, siang-siang bolong begini nggak gerah apa? Pakai jaket hitam, pakai jilbabnya selebar seprei lagi. Ih syereeem… Jangan-jangan teroris.” Asyik-asyiknya aku melamun dengan penampilan Mbak ini, eh tiba-tiba Mbaknya mengucapkan salam dan cipika-cipiki (cium pipi kanan-cium pipi kiri). Lagi-lagi hatiku bertanya-tanya.

            “Ih, ngapain sih ini Mbak. Kok pakai cipika-cipiki segala. Nggak tahu apa, aku kan risih kayak begitu.”

            Eh, si Mbaknya malah asyik lempar senyum sana-sini. Tibalah saatnya Mbak-Mbak tadi memulai acara mereka. Ada yang membuka acara. Baru aku menyadari bahwa aku telah berada dalam sebuah forum pekanan sepertinya. Dari kata-kata Mbak yang jadi MC aku tahu bahwa acara itu rutin tiap pekanan dan sangat dinanti-nanti Mbak-Mbak itu. Hatiku berkata lagi.

            “Ih, kayak apa sih ini acara kok sampai ditunggu-tunggu, apa bedanya dengan kajian setiap hari jum’at biasa yang diisi Ust. Agus? Ya sudah dilihat saja dulu lah.”

            Tiba-tiba mbak Santi, Mbak jilbab lebar itu meramaikan suasana.

            “Hayo, perkenalan dulu. Tak kenal maka ta’aruf.” (Sambil membuka bungkus wafer tango yang yummy, habis pulang sekolah, lapar L)

            Semua yang ada di forum itu akhirnya memperkenalkan diri tak terkecuali Mbak Santi. Akhirnya kuketahui bahwa Mbak santi itu sudah menikah, padahal masih kuliah semester lima saat itu. Beliau bilang menikah saat semester tiga. Lagi-lagi hatiku kesengsem sama Mbaknya. Mbaknya baru berjilbab lebar seperti itu sejak kelas dua SMA. Awalnya beliau malah pemain basket. Pakai kaos oblong dan celana olahraga sebatas lutut. Subhanalloh, beliau juga pinter lho ternyata. Bahasa Inggrisnya keren. Padahal beliau jurusan PKn. Sepulang dari acara tadi.

            “Dik Diyah naik apa?”

            “Naik angkot Mbak.”

            “Rumahnya mana, di desa Gandong Mbak. Rumah Mbak dimana?’

            “Wah, kita tetanggaan, ya sudah bareng saja kalau begitu.”

            Nah, semenjak itu hatiku rasa udah nyangkut deh sama Mbak Santi. Mbaknya sih tidak menyampaikan apa-apa kecuali ilmu agama. Ilmu-ilmu yang membuka seluruh mata dan pikiranku. Rasanya setelah beberapa kali mengikuti forum pekanan dengan beliau, ada secercah cahaya bak lentera yang menerangi seluruh hidupku. Dunia rasanya terang seterang Sang Surya di siang hari, seluas lautan biru, dan semerona saat senja. Semenjak itu sedikit-sedikit mulai terlihat perubahan-perubahan dalam hidupku. Bersemangat ke sekolah dengan niat yang benar. Menggapai ridhoNya. Moment-moment kajian pekanan ini seringkali menjadi satu hal yang sangat kutunggu-tunggu.

 

            Dari sini pula dapat kumenngerti mengapa Mbak-Mbak itu memakai jilbab yang panjang dan lebar. Rasanya bertemu dengan mereka adalah oase bagi seluruh jiwaku yang sudah merindukan indah dan nikmatnya Islam. Rasanya ada semangat kembali untuk memakai jilbab dengan lebih baik lagi. Setelah selama dua tahun yang lalu, tepatnya saat kelas dua MTs sempat memulai untuk berjilbab. Namun, rintangan demi rintangan datang silih berganti melawanku seorang diri.

            Kronologinya begini, saat itu aku duduk di bangku kelas dua Mts. aku pergi ke perpustakaan sekolah. Aku membaca buku-buku tafsir yang tersedia di sana. Aku juga banyak membaca buku-buku tentang siksa kubur, hari kiamat, dan majalah-majalah islam yang menampilkan gambar-gambar siksa neraka. Dari buku tersebut tahulah aku bahwa seorang perempuan yang sudah baligh jika membuka auratnya kepada selain mahramnya di akhirat kelak rambutnya akan diikat ke atas sampai mendidih. Bagai orang diburu setan aku lari pontang-panting menuju kelas karena ketakutan. Keringat dingin mengucur dan rasa khawatir akan dosa-dosa selama ini rasanya begitu membuncah. Hingga akhirnya kuberanikan diri kepada Pak Guru yang saat itu sedang mengajar. Jadilah beliau bercerita panjang lebar agar kami senantiasa menutup aurat meskipun zaman modern telah menggerogoti nilai-nilai islam perlahan-lahan.

            Alhasil, kukenakanlah jilbab setiap kali keluar rumah. Namun, apa yang terjadi? Halangan dan rintangan selalu saja datang silih berganti menghampiri hamba-hambaNya yang ingin bertaqwa. Inilah kisahnya.

            Di suatu siang bolong, nenek sedang mengeringkan padi.

            “Diyah, bisa belikan gula di toko depan?”

            “Iya, Nek sebentar.” Setelah mengambil uang, segera kukenakan jilbab di belakang rumah gar tidak terlihat oleh nenek. Sedangkan, setelah pulang kembali kulepas jilbab di belakang rumah agar tidak diketahui beliau kalau barusaja kukenakan jilbab. Begitulah, sampai awal kelas IX MTs, selalu saja sembunyi-sembunyi setiap kali menggunakan jilbab ke luar rumah.

            Saat keluar rumah seringkali harus uring-uringan dengan beliau. Kenapa lama sekali padahal mau keluar sebentar di toko depan rumah. Gunjingan itu tentunya tidak hanya dari nenek, ibu, keluarga besar, tetapi juga tetangga. Pernah suatu ketika saat ibu sudah kerja di luar negeri. Tiba-tiba keluarga besar nenek menyidangku seorang diri.

            “Kamu ikut aliran apa sih? Kamu ikut partai X ya?” Nenek mulai menyidangku di hadapan semua keluarga yang sedang silaturrahim hari raya saat itu.

            “Saya hanya mengikuti apa yang menurut saya benar.” Dengan tertunduk kujawab pertanyaan-pertanyaan mereka.

            “Apakah ajaran itu mengajarkan tidak salaman dengan orang laki-laki selain mahrommu?”

            “Iya.” Kujawab tegas kali ini.

            Semenjak itu, hari-hari penuh derita akan segera dimulai. Meskipun, ibu belum di rumah, tetapi ujian itu selalu datang silih berganti dari keluarga besar dan tetangga-tetangga. Alhasil, jadilah saya menangis setiap malam. Menjadi gunjingan mereka dan perlakuan yang tidak menyenangkan dari mereka.

            Puncaknya dari semuanya adalah saat malam itu, adzan maghrib baru saja dikumandangkan. Ibu baru saja pulang dari laur negeri. Beliau belum tahu seperti apa perkembangan putrinya. Beliau tahunya dari tetangga-tetangga yang sudah jelas tidak suka denganku. Disinari satu lampu neon, di ruang tamu sederhana itu ibu memintaku pergi dari rumah jika tetap saja kukenakan jilbabku di rumah. Bagaimana hati seorang remaja yang menjalani ingin menjalani hidup menjadi lebih baik dengan mendekatkan diri kepada Sang PenciptaNya. Namun, ujian dari keluarga begitu kerasnya. Namun, Tidak ada yang sia-sia di hadapanNya atas kebaikan-kebaikan yang telah kita lakukan untuk mengharap ridhoNya.

            Ibu mendapatkan musibah yang cukup berat. Tak ada satu orang pun yang mau membantu ibu. Nenek tidak membantu sama sekali. Apalagi, tetangga-tetangga yang sudah bercerita tentang saya yang berjilbab, tidak salaman dengan laki-laki non mahrom, dsb. Tak ada yang mau membantu beliau sama sekali. Namun, seorang anak bagaimanapun kondisi ibu yang telah mengusir kita dari rumah. Beliau jugalah yang telah melahirkan kita ke dunia. Berbekal ilmu yang sudah kudapatkan di kajian pekanan di SMA tentang ibu, maka kuniatkan diri untuk berbakti padanya. Kudampingi beliau di setiap kesulitannya, hingga dengan izin Allah, selesailah permasalah ibu tersebut.

***

            Mata ibu berkaca-kaca. Ibu memeluk dan menciumku serta berpamitan denganku saat beliau mau kembali ke Malaysia. Saat ini beliau tahu siapa putrinya dan akhirnya sangat menyayangi putrinya ini. Saat ini ibulah tempat berbagi. Ibulah yang selalu hadir saat semua mata kembali mengacuhkanku. Begitupun aku. Akulah yang pertama datang kepadanya untuk selalu berada di sampingnya saat semua orangpun enggan datang kepadanya.

            Kini, dengan pertolonganNya pun, aku sedang menempuh pendidikan tinggi gratis dariNya. Tanpa membayar sepeserpun malah mendapatkan uang bulanan yang lumayan untukku. Ibu semakin mencintai putrinya dan bangga dengan jilbab lebarku kutunjukkan padanya bahwa aku bisa berprestasi dan membanggakannya.

            “Mutiara adalah batu yang tercipta dari kesakitan dan tekanan-tekanan yang bertahun-tahun. Alhasil, mutiara mempunyai nilai jual yang sangat tinggi dibandingkan dengan batu kerikil. Sedangkan batu kerikil terbentuk dengan waktu yang cukup singkat dengan tekanan yang ringan, akhirnya dia hanya menjadi batu yang berada di jalan-jalan dan diinjak oleh orang-orang. Artinya, nilai seseorang dibentuk dari seberapa besarkah dirinya mampu menghadai rintangan-rintangan yang Allah berikan untuk menjadikan dirinya sebagai mutiara.”

            Rapsodi rinai malam itu mengantarkanku pada kebahagian-kebahagian bersama ibu dengan jilbabku. Seberapa kuat keinginan mengenakannya, sekuat itulah Dia menggenggammu dan menunjukkan jalan terbaikNya untukmu.

 

*Rinai: gerimis

*Mahrom: orang yang haram dinikahi

           

 

           

 

 

 

Diyah Ayu Candra. Lahir di Sidoarjo, 8 Januari 1992. Alamat rumah orangtua di Dusun Morosebo, RT 01/02 Desa Gandong, Kecamatan Bandung, Kabupaten Tulungagung. Menyelesaikan pendidikan dasar di SD N Gandong 2, kemudian menamatkan pendidikan menengah di MTs N Bandung, terakhir telah menyelesaikan pedidikan tingkat atas SMA N 1 Durenan kabupaten Trenggalek. Sekarang sedang menempuh pendidikan tinggi di Fakultas Sastra, Jurusan Sastra Indonesia, Prodi S1 Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah Universitas Negeri Malang.

Selain aktif di bidang akademik penulis juga aktif di berbagai organisasi selama menempuh studinya di berbagai jenjang. Pengalaman Organisasi tersebut diantaranya, redaktur organisasi majalah SMA N 1 Durenan 2008-2009, anggota organisasi Karya Ilmiah Remaja (KIR) SMA N 1 Durenan 2008-2009, bedahara umum Sie Kerohanian Islam (SKI) SMAN 1 Durenan 2008-2009, anggota pramuka SMA N 1 Durenan 2008, wakil ketua Forum Remaja Muslimah (FOPMUS) Trenggalek 2008, anggota HMJ Sastra Indonesia 2011, anggota FLP 2011, Sekretaris Umum Sie Kerohanian Islam Sastra Indonesia 2011, dan koordinator Malang Forum Silaturrahim Mahasiswa Muslim (FORSMILE) Trenggalek.

            Terakhir aktif di BEM Fakultas Sastra, Forum Lingkar Pena (FLP) ranting Universitas Negeri Malang dan organisasi Al-Qur’an Study Club (ASC) Al Hikmah Universitas Negeri Malang. Sekarang penulis sedang meraih mimpi untuk menjadi penulis buku best seller, menjadi dosen, dan mendirikan sekolah islam terpadu.

No Hp: 085 746 09 2238

Email: diysholihah@gmail.com

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s