PPL in MEMORY

Oleh: Diyah Ayu Candra

              Pekan pertama siswa di sekolah ini,  hening. Mungkin, karena mereka belum mengenal saya. Sejak awal adanya kegiatan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) ini saya sudah meniatkan akan menikmati kegiatan ini dengan sebaik-baiknya. Ada banyak alasan yang membuat saya sangat mencintai kegiatan ini, beberapa diantaranya adalah kegiatan ini sangat mendukung cita-cita saya sebagai pendidik, kegiatan ini memberikan wawasan bagaimana menjadi seseorang yang akan ditiru oleh peserta didik, tempat kegiatan ini adalah lab yang sangat tepat dan mendukung bagi cita-cita saya, yaitu sekolah.

             Saya sangat tertarik dengan anak-anak. Anak-anak adalah cerminan masa depan bangsa kita. Anak-anak adalah penentu. Saya sangat mencintai mereka, bahkan ketika dalam praktik pembelajaran tsb, saya selalu berusaha dekat dengan mereka, di berbagai kegiatan. Saya benar-benar mencintai mereka. Ini pengalaman saya saat Praktik mangajar di salah satu SMP di kota Malang.

 

 Siswa: “Main game ya, Bu?”

 Guru: “Boleh, main game apa?”

 Siswa: “Apa aja deh, Bu. Jangan pelajaran.”

 Guru: “Boleh, gamenya adalah menyebutkan di paragraf dan kalimat berapa kata yg saya sebutkan.”

 Siswa: “Iya, Bu. Mau-mau. Hadiahnya apa, Bu? Nonton ya Bu?”

 Guru: “Boleh.”

 Beberapa menit kemudian, game selesai.

 Hadiahnya adalah melihat video ……(Awas Bisikan Setan).

 Siswa: Terpesona. Hwa… Panas-panas.

 Guru: “Kenapa kalian?”

 Siswa: “Wah, Bu. Jadi, begitu ya kalau kita makan tidak berdo’a, kalau sholat subuh kesiangan, kalau kita tidak memakai jilbab. Banyak setan yang bersama kita.”

 Guru: “Ya, benar sekali. Kalian mau makan ditemani setan?”

 Siswa: “Menyeramkan, Bu.”

 Guru: “Hmmm.  Baiklah.”

 Pekan kedua.

 Siswa: “Bu, itu bajunya “Kegedhean” ya?”

 Guru: “Tidak, perempuan itu kalau sudah dewasa tidak boleh pakai baju adiknya.

 Kasihan kan adiknya, kalau bajunya dipakai kakaknya?”

 Siswa: “Lho, ndak bisa begitu, Bu! Tapi, ya jangan terlalu besar begitu.”

 Guru: “Lebih baik mana pakai baju sendiri yang longgar dengan baju adiknya dipakai?”

 Siswa: “Ya, saya mengerti.”

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s