PENGHUJUNG TAHUN CINTA

Oleh: Diyah Ayu Candra

Jauh kuberlari membawa diri
ternyata hanya kepadaMulah
jiwa itu berlabuh
kemanapun berkelananya hati
kepadaMulah kembali.

Aaaah…. Tak mau lagi kehilanganMu.
Labuhkan saja cinta ini hanya padaMu.
Biarkan nafsu itu berburu ilmuMu.
Muroqobah padaMu.

Kumau cahayaMu
pancarkan pada wajahku kelak disana
kumau wajahMu saja
karena Kaulah pemilik segalanya.
***
Aku masih sibuk mengirimkan pesan singkat kepada adik-adikku di rumah. Menanyakan apa yang mereka lakukan di malam tahun baru kali ini. Tetangga sebelah rumah kost benar-benar heboh malam ini. Dimulai setelah isya’ mereka sudah menyiapkan berbagai perangkat-perangkat untuk menyambut tahun baru kali ini.
Aku baru saja menyelesaikan makan malam dan bersiap-siap untuk sholat isya’. Namun, tetangga kost sebelah benar-benar menyambut tahun baru kali ini dengan gegap gempita. Mereka bahkan, meniup terompet sejak setelah maghrib. Menyalakan kembang api dan yang mengherankan bagiku lagi, mereka juga tak lupa menyiapkan masakan. Hemmmm… baunya ikan bakar mengusik hidungku yang kesepian di kamar kost. Musik dan layar lebar mereka nyalakan semakin membuat malam ini terasa hangat saja bagiku. Bagiku ini adalah malam tahun baru yang termeriah yang kudapati seumur hidupku. Aku terkagum-kagum dengan masyarakat sekitar yang menyambut tahun baru semeriah hari raya idhul fitri.
Hal ini bagiku benar-benar mengesankan. Bagaimana tidak? Sedangkan aku setiap malam tahun baru selalu merasa gelisah. Tahun baru bagiku menandakan bahwa usiaku akan semakin bertambah dan jatah umurku semakin berkurang. Seperti malam ini, jika saja mereka tidak mengingatkanku bahwa malam ini adalah malam tahun baru, aku tak akan mengingatnya, dan akan tetap sibuk dengan membaca. Entah apa saja yang bisa dibaca. Bagiku semakin aku banyak membaca masih saja begitu jauh dikatakan sebagai orang yang berilmu itu padaku. Aku sadar sesadar-sadarnya. Dia pun telah menegaskannya dalam surat cintaNya, “Katakanlah sekiranya lautan dijadikan tinta untuk menulis kalimat-kalimat Tuhanku, habislah lautan itu, sebelum habis ditulis kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun kami datangkan tambahan sebanyak itu pula.” (Al Kahfi: 109).
Bagiku malam tahun baru ataupun hari ulang tahun bahkan saat hari raya itu adalah hari untuk merefleksikan apa yang sudah kita lakukan. Bahkan, di setiap hari itu, harusnya kita evaluasi diri. Hehehe, kecuali kalau kecapekan sehingga kita tertidur. Ahh… kita memang orang-orang yang lalai. Benar-benar ngeri rasanya. Saat kita tahu dan mengingat bahwa ajal akan mengintai diri kita setiap hari, sedangkan kita masih enggan untuk berbenah. Begitu malu rasanya melihat saudara-saudara muslimah di berbagai penjuru dunia yang usia belasan tahun sudah menghafalkan Al-Qur’an, memahami artinya, dan berusaha mengamalkan ilmu Al-Qur’an itu dengan sebenar-benarnya. Sungguh, selama 22 tahun kamu di dunia, digunakan untuk apa waktunya? Berapa surat dalam al-Qur’an yang sudah kamu hafalkan?
Jangankan menghafal, terkadang saat sibuk UAS, sibuk kerja, sibuk nonton (mungkin) kita lupa untuk sekedar membacanya. Padahal, kita sudah hapal di luar kepala bahwa Al-Qur’an itu adalah petunjuk. Pedoman hidup. Kita merasa bahwa jika tidak membacanya hati dan hidup kita terasa hampa. Kita tahu itu. Tapi, why? Mengapa? Masih saja! Uh… manusia. Hingga kekasihNya bersabda, “Rabbku, sesungguhnya kaumku menjadikan al-Qur’an itu sesuatu yang diabaikan.” (Al-Furqan (25): 30)
Di pagi buta, saat fajar meloncat-loncat di atas embun daun yang menghijau dan diri ini masih terlena oleh mimpi-mimpi dunia serta melewatkan pemandangan fajar yang indah ini, rasanya sungguh hidup bagai tak berarti. Bagaimana bisa melewatkan waktu yang sangat mulia ini untuk belajar? Membaca Al-Qur’an, memuroja’ah dan menghafalnya. Padahal, di saat dhuha telah berjingkat-jingkat, dan Sang Guru telah sejak embun menampakkan diri telah bersiap memberikan ilmu padamu? Sudah berapa buku yang pelajaran dunia yang telah kamu baca? Sangat mengherankan jika kita tak mampu menjawab pertanyaan dosen kita saat-saat kita berdiskusi dengan beliau, yang menunjukkan betapa sedikitnya buku yang telah kita baca, padahal begitu banyak waktu untuk membaca.
Di setiap hening malam yang penuh dengan rindu itu untuk mengabdi serta keutamaannya itu rasanya sudah kholas dibahas, namun masih saja mata enggan untuk sedikit menerawang dan kaki melangkah menuju peraduan. Ahhh… setiap kali bulan desember rasanya begitu ramai kajian, seminar, talk show, media masa, media maya, semua membahas tentang keutamaan ibu, berbakti pada ibu, memuliakan ibu, dan seterusnya. Namun, begitu mudahnya mengucapkan kata-kata yang kasar padanya. Suara kita bahkan jauh lebih tinggi darinya. Padahal, kita tahu beliau sedang sakit. Kita begitu sok pintar memaksakan pendapat kitalah yang harus diterima. Sepertinya semua ilmu itu hilang tak berbekas pada diri kita. Apa yang kita banggakan? Padahal, Ilmu Amal dan Ikhlas adalah satu kesatuan yang tidak bisa terpisahkan.
Tahun ini, tahun cinta karena begitu banyaknya nikmat-nikmat dan kemudahan yang telah Dia berikan. Dia berikan jawaban atas do’a-do’a. Begitu mengalirnya cintaNya padaku, dipermudahnya segala urusan meski diri terbaring tak berdaya untuk sedikit merasakan betapa nikmat sehat itu luar biasa tak ternilaii harganya. Begitu telatenNya Dia mengingatkan hambaNYa, bahwa beratnya timbangan amalmu tidak akan mampu bila dibandingkan nikmat sebuah biji mata. Bahkan, amalan kita itu tak bisa dibanggakan, sama sekali. Kita saja tak mampu menghalau hewan sekecil nyamuk untuk menggigit dan menyebarkan penyakit Demam Berdarah yang rasa panasnya luar biasa. Apa? Mau sombong apa sih?
Sadarlah, wahai diri, siapapun diri anda, bahwa anda tidak berhak sombong sedikitpun, karena kita ini manusia yang benar-benar jauuh dari sifat mulia itu. Mulia itu milikNya. Jika saja saat ini kita masih diberi kemuliaan olehNya, dihargai orang lain, karena sesungguhNya Allah masih menutupi aib kita.
Tahun ini, sudah berusia 22 tahun. Sebagai muslim yang menyadari sepenuhnya bahwa orangtuanya adalah Islam, tidak selain Islam. Cita-cita yang mulia jika kelak mampu menanamkan pada generasi Rabbani bahwa mereka menyadari bahwa orang tuanya adalah Islam. Sejak belia mereka sadar, bahwa Kepala sekolah mereka adalah Allah, wali kelasnya adalah Allah, gurunya Allah, pembimbingnya Allah, penyusun kurikulumnya Allah, pemberi beasiswanya Allah. Beasiswa dan kurikulum mana di dunia ini yang lebih hebat dari beasiswa dan kurikulum selain Allah? Mereka begitu menyadari bahwa satu-satunya yang kita perlukan untuk memperbaiki keadaan alam semesta dan manusia ialah tuntunan langsung dari yang menciptakan keduanya.
Tahun ini, waktu untuk menjalankannya. Semoga, bisa mendapatkan kemudahan menujunya.

Malang, 31 12 2013, 22:17
Untuk Ayah, semoga Allah mengampuni dosa-dosa dan menerima amal ibadahmu. Untuk Ibu, semoga istiqomah dalam kebaikan dan menjadi ummahat sholihat. Untuk adik-adikku semoga menjadi anak-anak yang sholih sholihah. Untuk kakakku semoga mampu menjadi imam yang sholih bagi keluarganya. Untukku, semoga tercapai apa yang menjadi harapan. Terutama menjadi cahaya bagi mereka dan generasi emas berikutnya. ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s