Sejatinya

Sejatinya aku tak suka
bila mau,
aku merasa gerah awalnya,
sejatinya aku juga merasa rikuh saat pertama
menutup kepalaku dengan kain,
mengulurkannya hingga ke dada
menutup seluruh lekuk tubuh dengannya

namun, aku sudah terlanjur mencintaiNya
sudah sampai mati kuingin melihat WajahNya
sudah di ujung ubun-ubun kuingin selalu bersama cahayaNya
sudah kurelakan diri bersungkur setiap lima kali sehari
tak ada di dunia ini yang mampu membuatku bersujud
mencium sajadah di lantai kecuali Dia
bukti bahwa hanya Dia yang Maha Segalanya

karena hanya Dia yang selalu memberi udara
meski aku tak minta
karena hanya Dia yang selalu memberiku makan
meski seringkali kupinta dengan paksa
karena hanya Dia yang selalu memberiku harta
meski kupinta dengan sedikit usaha
karena hanya Dia yang telah memberiku tahta
meski kupinta dengan sedikit usaha
karena hanya Dia yang memudahkan segala urusanku
meski dengan sedikitnya usahaku
karena hanya Dia yang telah memberiku keluarga
yang dengannya aku disayangi dan dicintai
hingga hatiku tentram

Adilkah namanya, jika saat Dia
Minta taat padaNya, pada perintahNya, seluruhnya.
Masih kita interpretasikan surat-surat cintaNya itu.
Aaah… Rabbku, beginilah makhlukMu.
Kita memang orang-orang yang berlebihan dan dhalim

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s